Labfor Ungkap Penyebab Ledakan Maut di Biak, Mortir Sisa Perang Dunia II Dipotong untuk Bom Ikan

Bagikan berita ini

BIAK,HonaiPapua.com, –Kepolisian Daerah (Polda) Papua akhirnya mengungkap penyebab ledakan maut yang terjadi di Kompleks Perikanan, Jalan Wolter Mongonsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, pada Minggu (31/5/2026) lalu.

Berdasarkan hasil penyelidikan Laboratorium Forensik (Labfor), ledakan yang menewaskan sembilan orang tersebut dipicu oleh aktivitas pemotongan mortir sisa Perang Dunia II yang diduga hendak diambil bahan peledaknya untuk dijadikan bom ikan.

Fakta tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Mapolres Biak Numfor, Rabu (15/7/2026), yang dipimpin Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, S.I.K., M.I.K., mewakili Kapolda Papua, didampingi Dirreskrimum Polda Papua, Tim Laboratorium Forensik, Tim Disaster Victim Identification (DVI), Kapolres Biak Numfor, serta unsur pemerintah daerah dan keluarga korban.

Kabid Humas Polda Papua menjelaskan, pengungkapan kasus membutuhkan waktu karena proses penyelidikan dilakukan secara ilmiah melalui pemeriksaan laboratorium, identifikasi DNA, olah tempat kejadian perkara (TKP), serta pemeriksaan terhadap puluhan saksi.

“Keberhasilan pengungkapan ini merupakan hasil sinergi antara Polri, TNI, Pemerintah Daerah, Basarnas, tenaga kesehatan, Tim Labfor, Tim DVI, tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, dan insan pers,” ujar Kombes Cahyo.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua mengungkapkan, peristiwa tersebut mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia, delapan di antaranya tewas di lokasi kejadian dan satu korban meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit. Selain itu, enam orang lainnya mengalami luka-luka dan sedikitnya 10 bangunan, termasuk rumah warga dan satu rumah ibadah, mengalami kerusakan akibat gelombang ledakan dan serpihan logam.

Dari hasil olah TKP, polisi menemukan titik pusat ledakan berada di bawah rumah milik Yulianus Raubaba. Ledakan tersebut membentuk kawah dengan diameter sekitar 3,6 meter dan kedalaman mencapai 80 sentimeter.

Tim penyidik juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa serpihan casing mortir, proyektil logam, mata gerinda, gergaji besi, botol berisi bahan peledak, hingga berbagai peralatan lainnya.

TNT Meledak Saat Mortir Dipotong

Hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik memastikan bahan peledak yang meledak adalah Trinitrotoluene (TNT), yakni bahan peledak militer berkekuatan tinggi.

Penyidik menjelaskan, ledakan terjadi saat mortir peninggalan Perang Dunia II dipotong menggunakan gergaji besi dan gerinda. Gesekan pada bagian pemicu (fuse) menimbulkan panas yang kemudian mengaktifkan detonator dan memicu ledakan utama.

“Ledakan dipicu oleh aktivitas pemotongan mortir. Panas akibat gesekan menyebabkan detonator aktif dan memicu ledakan TNT di dalam mortir,” jelas Dirreskrimum.

Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi menetapkan lima orang sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam aktivitas pemotongan mortir tersebut. Namun, kelima tersangka turut menjadi korban dan meninggal dunia dalam peristiwa itu.

Karena para tersangka telah meninggal dunia, penyidik menyatakan perkara terhadap mereka akan dihentikan melalui Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Meski demikian, penyelidikan tetap terbuka apabila ditemukan alat bukti baru atau adanya keterlibatan pihak lain.

Diduga untuk Pembuatan Bom Ikan

Polisi mengungkapkan, motif para pelaku diduga berkaitan dengan faktor ekonomi, yakni mengambil bahan peledak dari mortir untuk dijadikan bahan pembuatan bom ikan atau dopis.

Sebagai barang bukti pendukung, penyidik turut menyita satu unit perahu fiber, mesin tempel, mesin kompresor, selang sepanjang 99 meter, alat selam, sirip selam, jaring, serta sejumlah peralatan yang diduga digunakan dalam aktivitas penangkapan ikan.

Identifikasi Korban Gunakan Tes DNA

Sementara itu, Tim DVI Polda Papua menyebutkan tiga korban tidak dapat dikenali secara visual akibat kondisi jenazah, sehingga proses identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan DNA.

Sebanyak 10 sampel jaringan tubuh korban dan sampel pembanding dari keluarga dikirim ke Laboratorium DNA di Jakarta untuk dilakukan pencocokan.

Tiga korban yang berhasil diidentifikasi melalui pemeriksaan DNA yakni:
Yohannes Marandof, teridentifikasi melalui sampel ayah biologisnya, Jonathan Marandof.

Laini, teridentifikasi melalui sampel anak biologisnya, Reza Yaranga.
Yulianus Raubaba, teridentifikasi melalui sampel saudara kandungnya, Esther Raubaba.

Pemerintah Kabupaten Biak Numfor juga telah menetapkan status tanggap darurat pasca-kejadian dan menyediakan tempat penampungan sementara bagi keluarga terdampak.

Di akhir konferensi pers, Polda Papua mengimbau masyarakat agar tidak mengambil, memindahkan, memotong, maupun membongkar benda yang diduga merupakan bom atau amunisi sisa Perang Dunia II.

Masyarakat diminta segera melaporkan kepada pihak kepolisian apabila menemukan benda mencurigakan agar dapat ditangani oleh Tim Penjinak Bom (Jibom) sesuai prosedur, guna mencegah terulangnya tragedi serupa. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Ke atas