Alumni P2TIM Meninggal di Perantauan, DPR Papua Barat Soroti Ketimpangan Serapan Tenaga Kerja Lokal

Bagikan berita ini

Bintuni,Honaipapua.com, –Kabar meninggalnya seorang alumni Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM) Petrotekno asal Teluk Bintuni, Papua Barat, di kawasan industri pertambangan Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, menuai keprihatinan mendalam. Korban dilaporkan meninggal dunia secara tidak wajar saat merantau untuk bekerja di luar daerah.

Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan mendasar terkait minimnya penyerapan tenaga kerja lokal di wilayah Teluk Bintuni, meskipun daerah tersebut menjadi pusat aktivitas industri migas berskala besar.

Wakil Ketua Fraksi Otonomi Khusus Papua Barat, Agustinus Orosomna, menyatakan bahwa kejadian ini sangat memprihatinkan dan seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.

Menurutnya, keberadaan perusahaan besar seperti LNG Tangguh dan Genting Oil semestinya memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, khususnya melalui pembukaan lapangan kerja yang memadai bagi putra-putri daerah.

“Ini sangat miris. Di satu sisi, Teluk Bintuni memiliki industri besar, namun di sisi lain anak-anak daerah justru harus merantau jauh untuk mencari pekerjaan, bahkan menghadapi risiko tinggi seperti yang terjadi saat ini,” ujar Agustinus dalam keterangannya melalui pesan WhatsApp, Kamis (30/4/2026).

Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak investasi yang masuk ke Papua Barat. Namun demikian, ia meminta agar setiap perusahaan benar-benar menjalankan tanggung jawab sosialnya, terutama dalam mengakomodir tenaga kerja lokal sesuai dengan ketentuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang telah disepakati.

Lebih lanjut, Agustinus menilai bahwa kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan antara peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal dengan peluang kerja yang tersedia. Ia menyebut, banyak anak asli Bintuni yang telah mengikuti pelatihan teknis melalui P2TIM, namun belum terserap secara optimal di industri yang ada di daerahnya sendiri.

“Kami tidak alergi terhadap investasi, tetapi perusahaan harus menunjukkan komitmen nyata terhadap masyarakat lokal. Anak-anak Bintuni sudah memiliki keterampilan, namun belum diberikan kesempatan yang adil untuk bekerja di tanahnya sendiri,” tegasnya.

Ia juga mengaku sangat terpukul atas peristiwa tersebut, karena korban merupakan bagian dari generasi muda Papua Barat yang berjuang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Agustinus berharap kejadian ini menjadi perhatian serius bagi seluruh perusahaan yang beroperasi di Teluk Bintuni, khususnya sektor migas, agar lebih memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam kebijakan rekrutmen.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembangunan industri tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Tanpa keberpihakan pada tenaga kerja lokal, keberadaan industri berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi di Papua Barat. (***)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Ke atas