MANOKWARI,Honaipapua.com, -Persoalan pembinaan atlet dan realisasi bonus prestasi kembali menjadi sorotan di dunia olahraga Papua Barat. Sejumlah atlet biliar berprestasi yang telah mengharumkan nama daerah di berbagai kejuaraan mengaku masih menantikan kepastian terkait pembinaan berkelanjutan maupun penyelesaian bonus prestasi yang sebelumnya dijanjikan.

Sorotan tersebut mengemuka setelah keberhasilan Club Yakuza Manokwari meraih gelar juara umum pada Open Turnamen Biliar Dandim 1806/Teluk Bintuni Cup Series I yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Teluk Bintuni.
Di balik keberhasilan tersebut, para atlet menilai masih terdapat persoalan mendasar yang perlu segera mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Papua Barat, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua Barat, serta Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Papua Barat, terutama menyangkut kepastian pembinaan dan penghargaan terhadap atlet berprestasi.
Salah satu atlet yang menyampaikan harapannya adalah Felix, atlet biliar Papua Barat yang pernah menyumbangkan medali perunggu bagi kontingen Papua Barat pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua Tahun 2021. Menurutnya, hingga saat ini masih banyak atlet yang berjuang mempertahankan prestasi dengan keterbatasan fasilitas dan dukungan pembinaan.
“Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya berharap ada pembinaan yang berkelanjutan, fasilitas latihan yang memadai, serta kesempatan mengikuti kompetisi secara rutin agar kemampuan atlet terus berkembang,” ujar Felix saat ditemui awak media, Kamis (11/6/2026).
Menurut Felix, atlet membutuhkan dukungan nyata, bukan hanya apresiasi ketika berhasil meraih medali atau mengharumkan nama daerah. Ia menilai keberhasilan atlet merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan latihan, pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.
Ia menegaskan bahwa perhatian terhadap atlet seharusnya tidak berhenti setelah sebuah kejuaraan berakhir. Sebaliknya, prestasi yang telah diraih harus menjadi dasar bagi pemerintah dan organisasi olahraga untuk memperkuat program pembinaan jangka panjang.
“Ketika atlet berhasil membawa nama daerah, tentu semua bangga. Tetapi setelah itu, atlet juga membutuhkan perhatian yang sama agar mampu mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya,” katanya.
Selain menyoroti pembinaan, Felix juga mengungkapkan adanya harapan di kalangan atlet terkait bonus prestasi yang sebelumnya dijanjikan kepada atlet berprestasi. Menurutnya, hingga saat ini masih terdapat atlet yang mempertanyakan kepastian realisasi bonus tersebut.
Karena itu, ia berharap POBSI Papua Barat dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai perkembangan dan realisasi bonus yang pernah dijanjikan kepada atlet.
“Kami berharap ada kepastian. Jika memang ada bonus yang telah dijanjikan kepada atlet berprestasi, maka perlu ada penjelasan yang jelas mengenai realisasinya. Jangan sampai atlet yang sudah berjuang untuk daerah hanya menerima janji tanpa kepastian,” tegasnya.
Persoalan bonus atlet, menurut Felix, bukan semata-mata menyangkut nilai materi, melainkan bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengorbanan atlet dalam membawa nama baik Papua Barat di tingkat nasional.
Ia menilai keterbukaan informasi sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun kekecewaan di kalangan atlet yang telah memberikan prestasi bagi daerah.
Senada dengan itu, Pemilik Club Yakuza Manokwari, Bung Jhon, menilai pemerintah daerah dan organisasi olahraga harus menjadikan persoalan pembinaan atlet sebagai prioritas, bukan sekadar agenda seremonial yang muncul saat menjelang kompetisi.
Menurut Bung Jhon, selama ini banyak atlet berprestasi yang bertahan dan berkembang berkat perjuangan pribadi maupun dukungan klub, bukan karena adanya sistem pembinaan yang kuat dan berkelanjutan.
“Kita harus jujur mengakui bahwa masih banyak atlet yang berjuang dengan kemampuan sendiri. Ada yang harus membiayai latihan sendiri, ada yang kesulitan mengikuti turnamen karena keterbatasan biaya, bahkan ada yang akhirnya berhenti karena merasa tidak mendapat dukungan yang memadai,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa organisasi olahraga tidak boleh hanya berperan ketika membutuhkan atlet untuk mewakili daerah dalam sebuah kejuaraan. Lebih dari itu, organisasi harus hadir dalam proses pembinaan, pengembangan kemampuan, hingga menjamin hak-hak atlet yang telah berprestasi.
“Atlet adalah aset daerah. Kalau pembinaan lemah dan penghargaan terhadap atlet tidak jelas, maka jangan heran apabila suatu saat atlet-atlet terbaik memilih berpindah daerah atau bahkan meninggalkan dunia olahraga. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegas Bung Jhon.
Ia juga meminta POBSI Papua Barat untuk memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait berbagai program pembinaan atlet yang telah dan akan dijalankan, termasuk menyangkut realisasi bonus yang menjadi harapan para atlet.
Menurutnya, transparansi diperlukan untuk menjaga kepercayaan atlet sekaligus menunjukkan komitmen organisasi dalam membangun prestasi olahraga di Papua Barat.
Keberhasilan Club Yakuza Manokwari menjadi juara umum pada Open Turnamen Biliar Dandim 1806/Teluk Bintuni Cup Series I dinilai menjadi bukti bahwa Papua Barat memiliki banyak atlet potensial yang mampu bersaing di level regional maupun nasional. Namun prestasi tersebut juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan atlet harus diikuti dengan sistem pembinaan yang jelas, dukungan yang berkelanjutan, serta penghargaan yang layak.
Para atlet berharap Pemerintah Provinsi Papua Barat, KONI Papua Barat, dan POBSI Papua Barat tidak hanya memberikan apresiasi ketika prestasi diraih, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata melalui program pembinaan yang terukur, penyediaan fasilitas yang memadai, serta penyelesaian hak-hak atlet secara transparan dan bertanggung jawab.
Sebab tanpa pembinaan yang berkelanjutan dan kepastian penghargaan terhadap atlet, berbagai prestasi yang telah diraih dikhawatirkan hanya menjadi catatan sesaat, sementara potensi besar olahraga Papua Barat perlahan kehilangan arah dan masa depannya. (Aris).
