Bicara Perhatian kepada seniman kota sorong yang di terlantarkan Bewa : Panggil DMP juga bukan solusi, Prioritaskan seniman Lokal itu baru Produktif

Bagikan berita ini

Sorong,Honaipapua.com, -Salah satu pemuda penggiat seni budaya di kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya Benyamin Boas Warikar, S.H menanggapi stetmen dari salah satu anggota DPD RI terpilih beberapa waktu lalu.

Dikatakan Bewa begitu disapa bahwa Senator itu mempublis sebuah berita yang judulnya merasa prihatin terhadap Nasib para seniman kota Sorong yang di duga di terlantarkan oleh pemerintah daerah.

Stetmen itu kata Bewa, menandakan bahwa ada rasa kepedulian dan perhatian bahkan tanggung jawab moral terhadap Nasib para seniman. Dan kami sangat mengapresiasi sepak terjang beliau sebagai anggota DPD terpilih ini, karena sudah berjuang menyuarakan aspirasi masyarakat pada khususnya parah seniman di kota Sorong tercinta ini.

Lanjut Bewa, Informasi yang beredar beliau juga di wacanakan akan mendatangkan Artis Luar negeri yang lagi populer dan familiar, yaitu, DMP dari Kepulauan Solomon (Solomon island). Tentu hal ini akan menarik perhatian seluruh masyarakat kota Sorong yang ada di provinsi Papua Barat Daya. Akan tetapi, kegiatan tersebut, membutuhkan biaya atau anggaran yang cukup besar dan tidak sedikit. Ya tak apalah, soal itu nanti saja.

” Kami sangat sepakat dan mendukung apa yang telah di lakukan oleh anggota DPD terpilih, tetapi di samping itu banyak wacana yang di perbincangkan di kalangan parah seniman kota Sorong, bahwa Ivent atau kegiatan yang di selenggarakan itu di rasakan dan di nilai kurang mengedukasi atau memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada parah seniman lokal khususnya di kota Sorong dengan tujuan juga di Berdayakan.

Padahal menurut Bewa, mereka ini juga memiliki hak dan kesempatan yang sama guna menyalurkan bakat dan talenta serta ketrampilan lain di bidang Kesenian. Seperti sudah memiliki badan hukum, punya sanggar, punya grup musik (Band), group tari , group musik tradisional, seni lukis dan lain sebagainya secara terorganisir. Namun dari dulu bahkan sampai sekarang mereka tidak di perlakukan seperti yang di harapkan.

” Ada salah satu pelaku seni yang menyatakan bahwa ‘tolong dudukan dan perlakukan kita para seniman lokal sama seperti artis luar yang di undang juga.Sebab kami seniman Sorong mau di berdayakan bukan hanya mau di manfaatkan di momen politik saja oleh parah elit politik, yang habis pakai kemudian di lupakan begitu saja. Kami juga tidak mau seperti se ekor sapi yang di tusuk hidungnya kemudian di tarik ke sana dan ke sini, ” ucap Bewa menirukan kata para seniman.

Lanjut Bewa, mereka para seniman juga menyampaikan rasa kekesalan dan kekecewaan mereka kepada salah satu anggota DPD terpilih yang mana telah mengundang dan mendatangkan artis sekelas DMP dari Kepulauan solomon, tetapi beliau lupa kalau seniman lokal atau daerah juga ada.

” Saran kami bahwa seharusnya seniman lokal juga bisa di libatkan secara merata, adil, jujur dan transparan tanpa pilih kasih dan tebang pilih. Supaya mereka ini juga bisa ikut serta ambil bagian seperti berkolaborasi dan belajar bersama untuk menyalurkan potensi dan bakat kesenian dan kebudayaan mereka sebagai generasi asli Papua, sehingga mampu menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri yang kuat dari generasi ke generasi. Dan sinkron juga dengan pernyataan beliau lewat pemberitaan di salah satu media online beberapa waktu lalu yang katanya sangat peduli dan prihatin kepada nasib parah seniman kota sorong yang di terlantarkan. Padahal kalau di analisa pernyataan beliau secara saksama, justru beliau sendiri yang tidak mau adanya perhatian dan kepedulian bagi para seniman lokal di kota sorong.

Bewa menambahkan, memang ada beberapa pelaku seni yang di libatkan tetapi sifatnya individual atau orang perorangan dan bukan secara kolektif sehingga tidak proporsinal. Dan hanya Di khususkan untuk beberapa orang tertentu saja.

” Menurut pengamatan saya selama ini selaku penggiat seni budaya di kota Sorong, semua itu bisa di ikut sertakan tapi dengan syarat harus mau sejalan dengan pandangan atau kepentingan politik parah penguasa atau elit yang bersangkutan, “tutur Bewa seraya menambahkan dan Kalau tidak sejalan jangan berharap akan di ikut sertakan, bahkan mengikuti seleksi, membuat bentuk permohonan pun akan di pangkas habis-habisan alias ‘ko tra akan dapat pake”.

Menurut saya secara pribadi, kalau cara-cara seperti ini di pakai terus-menerus, maka kita tidak akan pernah maju menuju perubahan untuk mengharumkan nama ibu kota provinsi tercinta ini lewat bidang kesenian dan kebudayaan baik di kanca nasional maupun internasional.

Jadi logikanya sederhana, sebenarnya siapa yang benar-benar peduli dan prihatin, dan siapa yang sengaja menelantarkan nasib para seniman kota Sorong ini.

Pesan kami parah seniman kota sorong meminta kepada pemerintah kota Sorong dan pemerintah provinsi Papua Barat Daya termasuk juga bapak senator DPD RI terpilih, agar sama-sama ikut memperjuangkan dan menyuarakan aspirasi kami, agar sebisanya brsama-sama mendorong agar Dewan Kesenian dan Gedungnya di bentuk dan di buat berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri RI Nomor: 5A tahun 1993, tentang Pembentukan Dewan Kesenian dan Pembangunan Gedung Kesenian, serta Petunjuk Pelaksanaannya Nomor: 431/3015/POUD, tahun 1995, mengenai Pembentukan Dewan Kesenian di Daerah Tingkat I dan Tingkat II. Sehingga Nasib parah seniman dan budayawan kota sorong bisa dapat terakomodir dengan baik.

Dan satu Pesan saya kepada seluruh parah pelaku seniman di kota sorong provinsi Papua barat daya agar tetap berbesar hati, semangat dan teruslah berkarya tanpa harus bergantung dan berhenti cuma karna satu alasan kecil, tetapi selalu dinamis.

Karena seorang seniman itu pandai dan lihai dalam menemukan beberapa pintu lain yang masih terbuka lebar ketika satu pintu itu tertutup, bahkan yang sengaja di tutupi pun mampu di bukakan. (***)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Ke atas