Jelang Sumpah Pemuda ke-98, Nehemia Ronsumbre Ajak Pemuda Papua Jaga Adat dan Lawan Hoaks

Bagikan berita ini

BIAK,HonaiPapua.com, –Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, Tokoh Adat Biak, Mananwir Er Beba Ronsumbre, Nehemia Ronsumbre, mengajak generasi muda Papua memperkuat persatuan, menjaga nilai-nilai adat, serta bijak menghadapi derasnya arus informasi di era digital.

Pesan tersebut disampaikan Nehemia saat menggelar Dialog Adat Pemuda Papua Damai bersama masyarakat dan puluhan pemuda-pemudi di Kampung Swapodibo, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, Sabtu (24/10/2026).

Mengusung tema “Pemuda Papua Menjaga Adat, Merawat Persatuan, dan Membangun Kampung Damai”, kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperkuat identitas budaya, menumbuhkan nasionalisme, dan membangun kesadaran akan pentingnya menjaga kedamaian di lingkungan masyarakat.

Dalam sambutannya, Nehemia menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Semangat yang diwariskan para pemuda pada 28 Oktober 1928 harus terus dihidupkan melalui tindakan nyata dalam menjaga persatuan dan membangun masa depan bangsa.

“Sumpah Pemuda 2026 bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengingat bagi kita semua, khususnya generasi muda Papua, untuk mengenang dan melanjutkan perjuangan para pahlawan. Semangat persatuan yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 harus terus kita rawat,” ujar Nehemia di hadapan peserta dialog.

Pemuda Papua Harus Cerdas Menyaring Informasi

Nehemia menilai pemuda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pembangunan Papua. Karena itu, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai motor penggerak perubahan, menjaga persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta berkontribusi bagi kemajuan daerah.

Namun, di tengah perkembangan teknologi informasi, ia mengingatkan bahwa generasi muda menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab berpotensi memengaruhi pola pikir masyarakat, memicu kesalahpahaman, bahkan mengancam kerukunan apabila tidak disikapi secara kritis.

“Di era digital seperti sekarang, tantangannya semakin kompleks. Pemuda harus cerdas, harus mampu membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hoaks, mana yang membangun dan mana yang memecah belah. Gunakan media sosial secara bijaksana untuk hal-hal positif, untuk mempromosikan adat, budaya, dan potensi kampung kita,” tegasnya.

Menurut Nehemia, kemampuan memilah informasi harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai adat dan kearifan lokal. Adat tidak hanya menjadi identitas masyarakat Papua, tetapi juga dapat menjadi landasan moral bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.

Ia berharap pemuda Kampung Swapodibo mampu memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan kekayaan budaya, mengangkat potensi kampung, serta menyebarkan pesan-pesan perdamaian di tengah masyarakat.

Dialog Adat Dirangkaikan dengan Pembagian Sembako

Selain menjadi ruang penguatan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai adat, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan aksi sosial berupa pembagian paket sembako kepada pemuda-pemudi Kampung Swapodibo.

Paket bantuan yang dibagikan meliputi beras, susu kaleng, kopi, teh, dan minyak goreng. Bantuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penerima sekaligus memperkuat semangat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Nehemia Ronsumbre mengatakan, penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian terhadap masyarakat di Papua.

“Ini adalah bentuk perhatian kecil namun tulus. Kami ingin menunjukkan bahwa pemerintah hadir dan peduli terhadap kebutuhan pangan masyarakat. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat dan semakin mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat di kampung,” pungkasnya.

Dialog adat berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh keakraban. Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk kedamaian, kemajuan Papua, serta terjaganya persatuan dan keutuhan NKRI.

Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadikan Sumpah Pemuda sebagai peringatan sejarah, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan, melestarikan adat, dan mengambil bagian dalam membangun kampung yang aman, damai, serta sejahtera. (Claus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Ke atas