SUPIORI,HonaiPapua.Com, —Semangat Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026 tidak hanya digaungkan melalui seremoni, tetapi diwujudkan lewat aksi nyata di tengah masyarakat. Di Kampung Warbefondi, Distrik Supiori Selatan, Kabupaten Supiori, Papua, semangat persatuan, kepedulian sosial, dan pelestarian adat menjadi pesan utama dalam kegiatan Bakti Sosial Adat Pemuda Papua Damai, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Stevanus Sarakan, tokoh adat sekaligus Perwakilan DPRK Kabupaten Supiori, ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara tokoh adat, pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, serta warga dalam membangun kehidupan kampung yang aman, rukun, dan sejahtera.
Lebih dari sekadar kegiatan sosial, bakti sosial tersebut membawa pesan kuat bahwa pemuda Papua harus menjadi bagian dari solusi bagi berbagai persoalan masyarakat, sekaligus tampil sebagai penjaga nilai-nilai adat dan pelopor perdamaian di Tanah Papua.
Frans Elly Korwa: Bakti Sosial Adalah Jati Diri Orang Papua
Dalam sambutannya, tokoh adat Supiori, Frans Elly Korwa, menegaskan bahwa bakti sosial adat bukan sekadar kegiatan seremonial atau berbagi bantuan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan wujud nyata kasih, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen menjaga warisan adat agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Bakti sosial adat ini adalah cerminan dari jati diri kita sebagai orang Papua. Kita diajarkan untuk saling membantu, saling menghormati, dan saling menjaga. Ini bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang merawat persaudaraan dan menjaga marwah adat kita agar tetap hidup di tengah generasi muda,” ujar Frans di hadapan masyarakat.
Ia menekankan, nilai-nilai adat harus terus diwariskan kepada generasi muda melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui nasihat. Semangat gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan kepedulian terhadap lingkungan perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, pelestarian adat dan pembangunan kampung harus berjalan beriringan. Adat yang dijaga dengan baik dapat menjadi landasan kuat untuk mempererat persaudaraan, mencegah konflik, dan menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Pemuda Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Keamanan Kampung
Frans juga mengingatkan bahwa peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober harus menjadi momentum refleksi bagi generasi muda untuk memperkuat semangat persatuan dan kesatuan bangsa sebagaimana diwariskan melalui Sumpah Pemuda 1928.
Ia mengajak pemuda dan pemudi di Kabupaten Supiori agar tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi mengambil peran aktif menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), merawat lingkungan, serta membangun hubungan sosial yang harmonis.
Menurutnya, keamanan kampung bukan semata-mata tanggung jawab aparat keamanan atau tokoh tertentu. Keamanan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan komunikasi terbuka, sikap saling menghormati, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat.
“Keamanan itu mahal harganya. Kalau kampung kita aman, maka pembangunan akan berjalan, anak-anak bisa sekolah dengan tenang, dan ekonomi keluarga bisa bertumbuh. Mari kita jaga bersama,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan hanya tentang tidak adanya konflik, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat membangun rasa saling percaya dan menciptakan lingkungan yang mendukung masa depan generasi berikutnya.
Tegas Ingatkan Pemuda Jauhi Miras, Narkotika, dan Kekerasan
Dalam kegiatan tersebut, generasi muda juga diingatkan agar menjauhi minuman keras (miras), penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, tindak kekerasan, pergaulan bebas, serta berbagai perilaku negatif yang berpotensi merusak masa depan.
Pemuda Papua diharapkan tumbuh menjadi generasi yang sehat jasmani dan rohani, berpendidikan, berkarakter kuat, berakhlak mulia, serta mampu membawa pengaruh positif bagi keluarga dan lingkungan masyarakat.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, generasi muda didorong mengisi waktu dengan kegiatan produktif, seperti belajar dengan tekun, bekerja keras, berkarya, berinovasi, serta terlibat aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan adat.
Pesan ini sekaligus menegaskan bahwa masa depan Supiori membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memiliki semangat persatuan, tetapi juga mampu menunjukkan tanggung jawab melalui tindakan nyata.
Stevanus Sarakan: Jangan Berhenti pada Seremoni
Sementara itu, Stevanus Sarakan selaku penyelenggara menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Bakti Sosial Adat Pemuda Papua Damai di Kampung Warbefondi.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan generasi muda dalam berbagai kegiatan sosial dan pembangunan kampung.
“Kami berharap semangat yang kita bangun hari ini terus hidup. Pemuda harus dilibatkan dalam setiap proses pembangunan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Karena di tangan pemudalah masa depan Supiori kita titipkan,” ujar Stevanus.
Menurutnya, pelibatan pemuda dalam pembangunan merupakan langkah penting untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap kemajuan daerah.
Ia berharap sinergi antara tokoh adat, pemerintah, tokoh agama, masyarakat, dan generasi muda terus diperkuat agar berbagai program pembangunan dapat berjalan dengan dukungan seluruh elemen masyarakat.
Dari Warbefondi untuk Supiori yang Damai dan Sejahtera
Pelaksanaan Bakti Sosial Adat Pemuda Papua Damai di Kampung Warbefondi menjadi pengingat bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, mulai dari menjaga persaudaraan, melestarikan adat, menciptakan lingkungan yang aman, hingga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Masyarakat berharap kegiatan tersebut mampu menjadi perekat persatuan dan mendorong pemuda-pemudi Papua untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun daerahnya.
Semangat yang tumbuh dari Kampung Warbefondi diharapkan terus menyebar ke kampung-kampung lainnya di Kabupaten Supiori, sehingga adat tetap terpelihara, generasi muda terhindar dari perilaku yang merusak masa depan, dan kehidupan masyarakat semakin harmonis.
Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah yang diperingati setiap tahun, melainkan komitmen bersama untuk menjaga persatuan, merawat adat, dan membangun Supiori yang aman, damai, maju, serta sejahtera. (Clsus. Lazim)
