BIAK,HonaiPapua.com, –Menjaga adat, merawat persatuan, dan menciptakan kedamaian di Tanah Papua menjadi pesan utama dalam Dialog Adat Pemuda Papua Damai yang digelar Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Biak Numfor, David Rumansara, di kediamannya, Kampung Bosnik Sup, Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor, Minggu (25/10/2026).
Kegiatan dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026 ini mengangkat tema “Pemuda Papua Menjaga Adat, Merawat Persatuan, dan Membangun Kampung Damai”. Dialog berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan, dengan melibatkan tokoh adat, tokoh pemuda, serta puluhan pemuda-pemudi dari Kampung Bosnik Sup dan wilayah sekitarnya.
Dalam sambutannya, David Rumansara menegaskan bahwa peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum bersejarah setiap 28 Oktober itu harus menjadi pengingat bagi generasi muda untuk meneruskan perjuangan para pendahulu dalam menjaga persatuan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Sumpah Pemuda adalah tonggak persatuan bangsa. Pemuda Papua hari ini harus melanjutkan semangat itu dengan menjaga jati diri, melestarikan adat dan budaya, namun tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas David.
Menurutnya, pemuda-pemudi Papua memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan daerah. Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi penjaga adat dan budaya, tetapi juga harus tampil sebagai penggerak perubahan, mendukung pembangunan, serta berkontribusi bagi kemajuan masyarakat di Tanah Papua.
Ia berharap semangat persatuan yang diwariskan para pendiri bangsa dapat diwujudkan melalui tindakan nyata di lingkungan masing-masing, mulai dari menjaga keamanan kampung, menghormati nilai-nilai adat, hingga membangun hubungan harmonis di tengah keberagaman masyarakat.
Pemuda Diminta Tidak Mudah Terprovokasi
Senada dengan David Rumansara, tokoh adat setempat, Hiskia Simbiak, mengingatkan generasi muda Biak Numfor agar terus meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan, keterampilan, dan pembentukan karakter.
Ia menilai, tantangan yang dihadapi pemuda saat ini membutuhkan sikap kritis, kedewasaan, serta kemampuan menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh isu-isu yang berpotensi memecah belah persatuan.
“Pemuda harus berpendidikan, terampil, dan berkarakter. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan, lestarikan budaya Biak yang kita cintai, dan bersama-sama mendukung program pemerintah demi kesejahteraan masyarakat,” ujar Hiskia.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan kampung dan daerah tidak hanya ditentukan oleh para pemimpin, tetapi juga oleh kesadaran generasi muda dalam menjaga kedamaian, mengembangkan potensi diri, serta mengambil bagian dalam pembangunan.
Pemuda Papua Jangan Hanya Jadi Penonton
Sementara itu, Mananwir Sup Fyor Aur, Zeth Makmaker, menyampaikan pesan tegas agar pemuda Papua berani mengambil peran dalam pembangunan daerah. Menurutnya, generasi muda harus memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Tanah ini adalah tanah harapan. Pemuda Papua harus menjadi aktor pembangunan daerah, menjadi generasi penerus yang membawa harapan bangsa. Untuk itu, kami berharap para pemimpin di Papua memberikan ruang, perhatian, pembinaan, dan kesempatan seluas-luasnya bagi pemuda-pemudi untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki,” tegas Zeth.
Ia berharap perhatian terhadap generasi muda tidak sebatas ajakan dan seruan, tetapi diwujudkan melalui pembinaan berkelanjutan serta kesempatan yang terbuka agar pemuda dapat berkembang dan berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.
Dengan demikian, generasi muda Papua diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga terlibat aktif dalam merancang dan mewujudkan masa depan daerahnya.
Dialog Adat Dirangkaikan dengan Pembagian Sembako
Selain menjadi ruang bertukar gagasan tentang adat, persatuan, dan pembangunan, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan aksi sosial berupa pembagian paket sembako kepada pemuda-pemudi Kampung Bosnik Sup.
Paket bantuan yang dibagikan berisi beras, susu kaleng, kopi, teh, dan minyak goreng. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan penerima sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan di tengah masyarakat.
David Rumansara menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian kepada masyarakat di kampung-kampung, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara masyarakat dan pemerintah.
“Ini adalah bukti nyata bahwa Pemerintah hadir di tengah masyarakat Papua. Bantuan ini memang tidak seberapa, namun ini adalah bentuk perhatian negara untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang membutuhkan, sekaligus mempererat tali silaturahmi antara masyarakat dengan pemerintah,” ungkapnya.
Dialog adat kemudian ditutup dengan doa bersama untuk kedamaian Tanah Papua dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Para peserta juga meneguhkan komitmen bersama untuk menjaga keamanan, merawat persaudaraan, melestarikan adat dan budaya Biak, serta membangun kampung yang aman, damai, dan bersatu.
Melalui momentum menjelang Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini, pesan yang mengemuka dari Bosnik Sup jelas: pemuda Papua harus menjaga akar budayanya, memperkuat persatuan, dan berani mengambil peran nyata dalam menentukan masa depan Tanah Papua. (Claus-Lazim)
