MUBES II Suku Besar Byak di Tanah Tabi: Regenerasi, Pendidikan dan Bahasa Jadi Kunci Menjaga Warisan Leluhur

Bagikan berita ini

JAYAPURA,Honaipapua.com, –Musyawarah Besar (MUBES) II Suku Besar Byak di Tanah Tabi bukan sekadar agenda pertemuan adat, tetapi menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan, menyiapkan generasi penerus, sekaligus menyelamatkan warisan budaya leluhur agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Setelah MUBES I meletakkan fondasi awal di Pusdiklat Kota Raja Dalam, Jayapura, kini MUBES II yang berlangsung pada 4 November 2026 di D’Santee, Holtekamp, Port Numbay, Jayapura, kembali menegaskan komitmen masyarakat Byak untuk menjaga keutuhan adat dan persaudaraan di tanah perantauan.

Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh suasana kekeluargaan tersebut dihadiri berbagai unsur adat Suku Byak. Kehadiran para tokoh adat menjadi bukti bahwa semangat persatuan tetap terpelihara, meskipun masyarakat Byak tersebar di berbagai wilayah.

Manfun Kawasa Byak, Apolos Sroyer, didampingi Manfasfas Gerald Kafiar, menjadi figur sentral dalam pelaksanaan MUBES II. Kehadiran keduanya sekaligus mempertegas pentingnya kepemimpinan adat dalam menentukan arah keberlanjutan organisasi dan kehidupan budaya Suku Byak ke depan.

MUBES II ini juga dihadiri para Mananwir atau kepala-kepala adat Byak yang berdomisili di berbagai wilayah Tanah Tabi dan sekitarnya, meliputi Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom hingga Kabupaten Mamberamo.

Tidak hanya itu, para kepala adat dari setiap Bar-Bar atau bagian-bagian marga yang berada di luar Pulau Biak turut mengambil bagian. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa jarak geografis tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Byak untuk tetap terikat dalam satu identitas adat dan persaudaraan.

DUA AGENDA BESAR: REGENERASI DAN PELESTARIAN BAHASA BYAK

Ada dua pesan penting yang mengemuka dalam MUBES II, yakni regenerasi kepemimpinan adat serta penguatan pendidikan dan pelestarian bahasa Byak.

Pertama, para Manfun dan Mananwir sepakat bahwa generasi muda-mudi Byak harus diberikan ruang dan kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam kehidupan adat. Kaum muda tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus dipersiapkan menjadi penerus yang memahami sejarah, budaya, struktur adat, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Kedua, pendidikan dan pelestarian bahasa Byak menjadi perhatian serius. Dalam sambutannya, Manfun Kawasa Byak, Apolos Sroyer, menyampaikan pesan mendalam agar seluruh keluarga Byak tidak mengabaikan pendidikan anak cucu serta tidak membiarkan bahasa ibu mereka hilang ditelan perkembangan zaman.

“Pendidikan anak cucu kita adalah yang utama untuk generasi ke depan. Dan satu lagi, Wos Byak, bahasa Byak kita ini jangan sampai hilang,” tegas Apolos Sroyer.

Ia juga mengingatkan bahwa generasi tua memiliki keterbatasan waktu untuk terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya.

“Kami para orang tua tidak akan bertahan lama dengan umur kami yang sudah tidak muda lagi. Jadi mari kita jaga dan rawat budaya kita untuk tidak punah di kemudian hari,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi pesan sekaligus peringatan bagi seluruh keluarga besar Byak, khususnya generasi muda, bahwa keberlangsungan sebuah suku tidak hanya ditentukan oleh jumlah masyarakatnya, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan bahasa, adat istiadat, identitas, dan nilai-nilai leluhur.

JANGAN SAMPAI ADAT DAN BAHASA BYAK HILANG DI TANAH PERANTAUAN

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial di Tanah Papua, tantangan pelestarian budaya semakin nyata. Karena itu, MUBES II diharapkan tidak berhenti sebagai forum musyawarah, tetapi mampu melahirkan langkah nyata dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga identitas Suku Byak.

Pendidikan harus menjadi jalan bagi kemajuan generasi muda, sementara bahasa dan adat harus tetap hidup dalam lingkungan keluarga, kehidupan bermasyarakat, serta setiap proses pewarisan nilai budaya.

MUBES II akhirnya menitipkan pesan besar kepada seluruh generasi Byak: jangan hanya mewarisi nama dan identitas sebagai orang Byak, tetapi juga harus mengenal, memahami, menggunakan, dan menjaga warisan leluhur.

Sebab, ketika bahasa mulai dilupakan dan adat tidak lagi diwariskan, maka perlahan-lahan identitas sebuah suku dapat kehilangan pijakannya.

Kini, tanggung jawab menjaga api budaya Byak agar tetap menyala bukan hanya berada di pundak para orang tua dan tokoh adat, tetapi juga menjadi tanggung jawab generasi muda di Tanah Tabi, Pulau Biak, dan di mana pun masyarakat Byak berada.

Persatuan harus dirawat, pendidikan harus diutamakan, dan Wos Byak harus tetap hidup sepanjang zaman. (Claus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Ke atas