Jelang Sumpah Pemuda ke-98, Tomy Kogoya Gaungkan Persatuan dan Perdamaian dari Biak

Bagikan berita ini

BIAK NUMFOR,HonaiPapua.com, –Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, Kepala Suku Pegunungan Tengah Lapago Wilayah Biak-Supiori, Tomy Kogoya, menggelorakan semangat persatuan, nasionalisme, dan perdamaian melalui Dialog Adat Pemuda Papua Damai di kawasan Taman Anggrek, Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, Rabu (21/10/2026).

Mengusung tema “Pemuda Papua Menjaga Adat, Merawat Persatuan, dan Membangun Kampung Damai,” kegiatan ini mempertemukan tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, serta warga paguyuban Lapago yang berdomisili di wilayah Biak dan Supiori.

Dialog tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, menjaga nilai-nilai adat, sekaligus mengajak generasi muda Papua mengambil peran nyata dalam menciptakan situasi yang aman, damai, dan kondusif.

Dalam sambutannya, Tomy Kogoya menegaskan bahwa Hari Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum bersejarah tersebut harus menjadi pengingat bagi generasi muda untuk meneruskan semangat perjuangan para pendahulu dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

“ Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar seremonial tahunan. Momentum ini harus menjadi pengingat bagi kita semua, terutama generasi muda, untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan dalam mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Nilai sumpah itu adalah satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia,” ujar Tomy.

Pemuda Papua Harus Jadi Pelopor Perdamaian

Tomy menilai pemuda-pemudi Papua memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, generasi muda harus tampil sebagai pelopor perdamaian, penjaga persatuan, serta mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan di Tanah Papua.

Menurutnya, pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi masyarakat, dan kemajuan kampung yang harus berjalan seiring dengan terpeliharanya nilai-nilai adat.

Ia mengingatkan bahwa identitas sebagai anak adat dan kecintaan terhadap Indonesia bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

“Pemuda Papua adalah harapan. Kita harus menjadi pelopor perdamaian, menjaga adat istiadat kita yang luhur, namun tetap membuka diri untuk kemajuan. Dengan bersatu, kita bisa membangun kampung yang damai, aman, dan sejahtera di dalam NKRI,” tegasnya.

Ingatkan Pemuda Tidak Terjebak Provokasi dan Hoaks

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Tomy juga menyoroti tantangan penyebaran hoaks dan provokasi melalui media sosial. Ia meminta generasi muda agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya maupun narasi yang berpotensi memecah belah persaudaraan.

Menurutnya, media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, promosi kebudayaan, penyebaran informasi positif, dan penguatan pesan perdamaian, bukan menjadi ruang untuk menyebarkan kebencian atau memperuncing perbedaan.

“Di era digital seperti sekarang ini, pemuda harus cerdas dan kritis. Mampu membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hoaks. Gunakan media sosial untuk hal-hal yang positif, untuk belajar, untuk mempromosikan budaya Papua, dan untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian. Jangan mudah diadu domba,” pesannya.

Ia berharap pemuda Lapago di Biak dan Supiori dapat menjadi contoh dalam menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, serta membangun komunikasi yang sehat di tengah kehidupan bermasyarakat.

Dialog Adat Disertai Pembagian Ratusan Paket Sembako

Tidak hanya menyampaikan pesan kebangsaan, kegiatan tersebut juga diisi dengan aksi sosial berupa pembagian ratusan paket sembako kepada masyarakat Pegunungan Lapago yang membutuhkan.

Paket bantuan berisi kebutuhan pokok, antara lain beras, susu kaleng, kopi, teh, gula, dan minyak goreng. Bantuan diserahkan secara langsung kepada warga yang hadir dan disambut dengan antusias serta rasa syukur.

Tomy Kogoya mengatakan, kegiatan sosial tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekaligus upaya memperkuat semangat gotong royong dan solidaritas antarsesama.

Ia juga menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud perhatian pemerintah kepada masyarakat Papua, baik yang tinggal di wilayah pesisir maupun pegunungan.

“Ini adalah bentuk perhatian dan kasih dari pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Ini bukti bahwa Pemerintah Pusat hadir di tengah masyarakat Papua. Negara tidak pernah absen untuk rakyatnya. Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan beban warga,” ungkapnya.

Sumpah Pemuda Harus Dibuktikan dengan Tindakan Nyata

Melalui Dialog Adat Pemuda Papua Damai ini, Tomy berharap semangat Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi slogan yang diperingati setiap tahun, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menjaga keamanan lingkungan, melestarikan adat istiadat, menolak provokasi, memperkuat persaudaraan, serta berpartisipasi dalam pembangunan kampung merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan generasi muda untuk menciptakan masa depan Papua yang lebih baik.

Momentum menjelang 28 Oktober 2026 ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persatuan tidak dibangun hanya melalui kata-kata, tetapi melalui kepedulian, sikap saling menghormati, dan komitmen bersama menjaga perdamaian.

Dari Biak, pesan yang disampaikan jelas: pemuda Papua harus tetap teguh menjaga adat, merawat persatuan, dan menjadi bagian dari solusi bagi terciptanya Papua yang damai, aman, dan sejahtera. (Claus Lazim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Ke atas