BTF RI-PNG 2026 Resmi Ditutup

Bagikan berita ini

JAYAPURA,Honaipapua.com, –Border Trade Fair (BTF) atau Borderless Festival Indonesia-Papua New Guinea (RI-PNG) Tahun 2026 resmi ditutup di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Sabtu (11/10/2026). Penutupan ini menjadi momentum untuk memperkuat perdagangan lintas batas sekaligus membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas antara Indonesia dan Papua New Guinea (PNG).

Penutupan dilakukan Asisten II Sekda Provinsi Papua, Susana D. Wanggai, S.Pd., M.Si., yang mewakili Gubernur Papua. Gubernur berhalangan hadir karena agenda peringatan satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua yang jatuh pada 8 Oktober 2026.

Dalam sambutannya, Susana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan selama tiga hari tersebut, termasuk delegasi pemerintah dan pelaku usaha dari PNG.

“Bapak Gubernur menyampaikan salam hormat dan permohonan maaf karena tidak dapat hadir pada event luar biasa yang sangat penting ini,” ujar Susana.

Apresiasi khusus juga diberikan kepada delegasi PNG, di antaranya Chairman Chamber of Commerce West Sepik Province Gerald Gubon, Provincial Administrator West Sepik Ian Pondek, Administrator Perbatasan West Sepik Ashley Wayne, Acting Konsul PNG Leon Galimo, serta Gubernur West Sepik Tony Wowo yang diwakili pada pembukaan.

89 Peserta Ramaikan Perdagangan Lintas Batas

BTF RI-PNG 2026 melibatkan 89 peserta, terdiri dari 53 pelaku UMKM Indonesia, 28 UMKM PNG, serta delapan BUMN/BUMD dan mitra usaha. Berbagai produk dan layanan ditampilkan, mulai dari elektronik, layanan Starlink, suvenir, kuliner hingga alat kesehatan.

Dari sisi transaksi, panitia mencatat perdagangan pada hari pertama mencapai Rp22 juta dan 1.200 Kina. Pada hari kedua, transaksi tercatat sebesar Rp16 juta dan 800 Kina, sedangkan transaksi hari ketiga masih dalam proses pendataan.

Jumlah pengunjung juga menunjukkan tingginya aktivitas di kawasan perbatasan. Pada hari pertama, tercatat 2.905 pengunjung, terdiri dari 869 warga negara Indonesia (WNI) dan 2.036 warga negara PNG.

Sementara pada hari kedua, jumlah pengunjung mencapai 1.433 orang, terdiri dari 419 WNI dan 1.014 warga negara PNG.

Selain pameran dan perdagangan, kegiatan business matching turut mempertemukan 40 peserta, yakni 22 peserta Indonesia dan 18 peserta PNG. Pertemuan ini diharapkan membuka peluang kemitraan usaha yang lebih konkret bagi pelaku bisnis kedua negara.

Pelaksanaan kegiatan didukung APBD Provinsi Papua melalui DPA Badan Pengelola Perbatasan, serta sejumlah mitra, antara lain Bank Indonesia, Bank Papua, PT Pertamina, PDAM Jayapura, Hotel Horison Ultima Abepura, Horison Ultima Entrop, dan Telkomsel.

Perbatasan Bukan Sekadar Garis Administrasi

Dalam pidato penutupnya, Susana menegaskan bahwa berakhirnya BTF 2026 bukan berarti berakhirnya kerja sama Indonesia dan PNG. Sebaliknya, kegiatan ini harus menjadi titik awal untuk memperluas perdagangan, mendorong investasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua sisi perbatasan.

“Hari ini kita sampai pada penghujung Border Trade Fair Indonesia-Papua New Guinea. Namun penutupan ini bukanlah akhir dari sebuah perjumpaan, justru ini menjadi awal bagi langkah yang lebih besar untuk memperkuat kerja sama, memperluas perdagangan, membuka peluang investasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua sisi perbatasan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengubah cara pandang terhadap kawasan perbatasan yang selama ini kerap dipahami sebatas garis pemisah administratif.

“Selama ini kita tahu border sebagai garis administrasi penutup. Tetapi hari ini kita tidak ingin melihat border hanya sebagai garis administrasi. Border adalah tempat di mana kita harus melakukan sesuatu yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran kita,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kawasan Skouw dan wilayah perbatasan lainnya memiliki potensi strategis sebagai pusat aktivitas ekonomi, perdagangan, dan interaksi masyarakat kedua negara.

BTF 2027 Diusulkan Berlangsung di Vanimo

Sebagai langkah keberlanjutan, Susana menyepakati usulan agar pelaksanaan BTF tahun 2027 digelar di Vanimo, Papua New Guinea. Rencana ini diharapkan memperkuat semangat kerja sama bilateral sekaligus memberikan kesempatan lebih luas bagi pelaku UMKM PNG untuk menjadi tuan rumah kegiatan perdagangan lintas batas.

Acara penutupan turut dihadiri Kepala Badan Pengelola Perbatasan dan Kerja Sama Luar Negeri Provinsi Papua, Dr. Triwarno Purnomo; Staf Ahli Gubernur Bidang Adat dan Budaya, Matias Benoni Mano; Kepala Badan Perbatasan Kota Jayapura, Raimundus Mote; Konsul RI di Vanimo, Alexander Tangkuman; Administrator PLBN Skouw; unsur CIQS Indonesia dan PNG; Ketua KADIN Papua; unsur TNI-Polri; sponsor; serta pelaku UMKM.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penampilan hiburan dan ajakan untuk terus menjaga hubungan baik Indonesia-PNG melalui penguatan perdagangan lintas batas.

Ke depan, keberhasilan BTF tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung dan nilai transaksi selama pameran, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan ini mampu menghasilkan kemitraan usaha berkelanjutan, memperluas akses pasar, dan meningkatkan pendapatan masyarakat perbatasan. (Claus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Ke atas