BTF 2026 Digelar di Skouw, 66 UMKM RI-PNG Bidik Pasar Lintas Negara

Bagikan berita ini

JAYAPURA,HonaiPapua.com, —Kawasan perbatasan Indonesia–Papua New Guinea (RI-PNG) di Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, kembali didorong menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah timur Indonesia.

Hal itu ditandai dengan digelarnya Border Trade Fair (BTF) / Borderless Festival Republik Indonesia–Papua New Guinea 2026 di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Rabu (8/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penanda satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua sekaligus momentum untuk memperkuat aktivitas perdagangan dan perekonomian masyarakat di kawasan perbatasan.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan dan Kerja Sama Provinsi Papua, Dr. Triwarno Purnomo, S.STP., M.Si., mengatakan BTF 2026 diarahkan untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan Papua, khususnya produk UMKM.

«“Yang kita harapkan adalah memperkenalkan produk-produk ekonomi dan potensi UMKM lokal agar pasarnya bisa lebih diperluas. Jika selama ini sudah dikenal di lokal Papua, ini menjadi kesempatan untuk memperluas pasar hingga ke Papua New Guinea,” ujar Triwarno.»

Sebanyak 66 pelaku UMKM dari Indonesia dan Papua New Guinea ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Beragam produk dipamerkan, mulai dari kerajinan dan kriya, kuliner, produk elektronik dan teknologi, hingga berbagai layanan jasa.

Tidak sekadar menjadi ajang pameran, BTF 2026 juga diarahkan untuk membuka peluang transaksi dan kerja sama bisnis lintas negara melalui business matching yang difasilitasi Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Papua bersama Chamber of Commerce Papua New Guinea.

“Melalui business matching ini, produk-produk potensial dari kedua negara dapat dipertemukan untuk membuka peluang kerja sama perdagangan lintas batas,” jelasnya.

Pasar Skouw dan Ribuan Warga PNG

Dukungan terhadap penguatan aktivitas ekonomi di kawasan perbatasan juga disampaikan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).

Kepala BNPP, Ni Luh Puspa J., menegaskan bahwa keberadaan PLBN Skouw tidak hanya sebatas sebagai pintu keluar-masuk antarnegara. Kawasan tersebut juga didorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat perbatasan.

“Kami dari BNPP sangat mendukung. Maka kita berupaya agar hari pasar tetap ada. Karena dulu sempat ditutup. Kita upayakan kalau bisa hari pasar tetap ada,” ujarnya.

Menurut Puspa, aktivitas pasar Skouw memiliki dampak ekonomi yang cukup besar. Setiap hari pasar, ribuan warga dari Papua New Guinea datang untuk memenuhi kebutuhan mereka di wilayah Indonesia.

“Setiap hari pasar itu lumayan, kalau dari PNG itu bisa ribuan orang. Memang di Pasar Skouw ramai sekali, apalagi menjelang akhir tahun bisa mencapai 3.000 pengunjung hanya untuk berbelanja. Jadi income-nya masuk ke daerah juga,” katanya.

Besarnya minat warga PNG berbelanja di Skouw antara lain dipengaruhi perbedaan harga barang dan nilai tukar mata uang. Dalam pernyataannya, Puspa menyebut 1 Kina PNG setara sekitar Rp4.000, sehingga sejumlah barang di Indonesia dinilai lebih terjangkau bagi konsumen dari PNG.

Manifest Jadi Akses Terbatas Warga Perbatasan

Untuk mendukung mobilitas masyarakat sekaligus menjaga pengaturan lintas batas, pemerintah juga menerapkan kebijakan lintas batas terbatas bagi warga dari sejumlah kampung di sepanjang Vanimo hingga Lido yang belum memiliki paspor.

Mereka dapat melintas menggunakan manifest, namun akses tersebut dibatasi hanya sampai kawasan pasar Skouw.

“Izinnya sampai di sini saja, tidak sampai ke Kota Jayapura. Kalau sampai Kota Jayapura harus pakai Yellow Card atau paspor. Manifest itu sampai di pasar saja untuk belanja, supaya perekonomian kita meningkat,” pungkas Puspa.

Digelarnya Border Trade Fair bersamaan dengan hari pasaran di Skouw menjadi momentum untuk mempertemukan potensi UMKM kedua negara sekaligus memperkuat aktivitas perdagangan masyarakat perbatasan.

Kawasan Skouw kini tidak hanya menjadi wajah perbatasan RI-PNG, tetapi juga diproyeksikan menjadi ruang bertemunya produk, pelaku usaha, dan peluang ekonomi lintas negara.

Dengan geliat perdagangan yang terus didorong, Skouw diharapkan mampu tumbuh sebagai salah satu simpul ekonomi strategis Papua di kawasan perbatasan RI-PNG. (Claus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Ke atas