Biak,HonaiPapua.com, –Puncak pelaksanaan Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) VII Tahun 2026 ditandai dengan kemeriahan Parade Yosim Pancar yang berlangsung di sepanjang Jalan Imam Bonjol, Kabupaten Biak Numfor, Senin (7/7/2026). Ribuan masyarakat memadati lokasi kegiatan untuk menyaksikan penampilan ratusan penari yang memukau dalam balutan budaya khas Papua.

Parade Yosim Pancar menjadi penutup resmi seluruh rangkaian Festival Biak Munara Wampasi VII yang telah digelar sejak awal Juli 2026. Festival tahunan ini merupakan agenda budaya unggulan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dalam upaya mempromosikan sektor pariwisata, melestarikan seni budaya, serta memperkenalkan kekayaan tradisi Papua kepada masyarakat luas.
Suasana semakin semarak dengan dentuman tifa dan lantunan lagu-lagu tradisional yang mengiringi penampilan ratusan pelajar dari berbagai sekolah menengah di Kota Biak. Mereka menampilkan Tari Yosim Pancar secara kompak dan penuh semangat, mengundang decak kagum para penonton yang memadati sepanjang rute parade.
Ketua Panitia Festival Biak Munara Wampasi VII dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan festival.
Menurutnya, Yosim Pancar bukan hanya sebuah tarian hiburan, tetapi juga menjadi simbol persaudaraan, kebersamaan, dan identitas masyarakat Papua.
“Yosim Pancar bukan sekadar tarian. Ini adalah simbol persaudaraan, sukacita, dan identitas orang Papua. Melihat anak-anak sekolah ikut terlibat aktif, kami optimistis regenerasi budaya akan terus berjalan,” ujarnya.
Sepanjang pelaksanaan parade, antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Selain menyaksikan pertunjukan, banyak warga ikut menari bersama para peserta di penghujung acara. Kehangatan dan kebersamaan yang tercipta menjadi ciri khas tarian Yosim Pancar yang mampu menyatukan berbagai kalangan.
Sejumlah wisatawan mancanegara yang hadir juga tampak menikmati setiap penampilan. Mereka mengabadikan berbagai momen melalui kamera dan telepon genggam, bahkan ikut berbaur bersama masyarakat dalam tarian massal yang berlangsung penuh sukacita.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Oni Dengahubun, mengatakan keterlibatan para pelajar dalam parade merupakan bagian dari strategi pelestarian budaya sejak usia dini.
“Kami sengaja melibatkan sekolah-sekolah agar generasi muda Biak tidak hanya mengenal, tetapi juga bangga dan mau mewariskan tarian ini kepada generasi berikutnya,” katanya.
Yosim Pancar merupakan salah satu tarian tradisional paling populer di Papua. Tarian ini lahir dari perpaduan budaya Yosim yang berkembang di wilayah Saireri dengan gerakan Pancar yang enerjik, sehingga menghasilkan tarian penuh semangat, persahabatan, dan kegembiraan yang kini dikenal hingga tingkat nasional maupun internasional.
Dengan berakhirnya Parade Yosim Pancar, seluruh rangkaian Festival Biak Munara Wampasi VII Tahun 2026 resmi ditutup. Pemerintah Kabupaten Biak Numfor berharap festival budaya ini terus menjadi daya tarik wisata unggulan yang mampu memperkuat identitas budaya, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Tanah Papua, khususnya Kabupaten Biak Numfor. (Claus)
